Kebebasan Dan Kesetaraan Dalam HAM Islam

Pada dasarnya, Islam memberikan kebebasan manusia berbuat apa saja dalam kehidupannya. Namun, Islam juga menegaskan, bahwa apapun yang dilakukan manusia akan dimintai pertanggung jawaban dan manusia harus siap menerima resikonya. Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda,

أَتَنِى جِبْرِيْلُ فَقَالَ يَامُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّةٌ وَاحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ وَ اعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌ بِهِ

“Jibril menemuiku dan mengatakan, “Hai Muhammad, hiduplsh semaumu, sesungguhnya engkau akan mati. Cintailah siapapun, sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Dan lakukanlah apa yang kau suka, sesungguhnya engkau akan menerima balasannya”. (HR. Al Baihaqi)

Karena segala perbuatan baik atau buruk akan menerima resikonya, maka Islam memberikan aturan dan batasan – batasan syariat bagi kehidupan manusia. Aturan dan batasan – batasan yang diberikan Islam ini, bukan dimaksudkan untuk menindas manusia, melainkan untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia itu sendiri. Dengan demikian, kebebasan manusia dalam konsep HAM Islam dibatasi oleh hukum – hukum syariat Islam.

Sedangkan rumusan kesetaraan manusia dalam HAM Islam, telah ditegaskan oleh Al Qur’an. Firman Allah SWT,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari seorang laki – laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kalian saling kenal – mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kalian”. (QS. Al Hujarat : 13)

Ayat ini menegaskan, bahwa yang dipandang disisi Allah hanya kualitas ketaqwaan seseorang. Ayat ini merupakan dasar bagi konsep kesetaraan yang paling final dalam Islam. Artinya, realitas perbedaan dalam kehidupan, seperti penguasa dan rakyat jelata, miskin dan kaya, laki – laki dan perempuan, warna, suku bangsa dan lain – lain, bukanlah ukuran yang sah menjadi alasan perlakuan membeda – bedakan manusia. Ayat ini mengajarkan, ukuran yang sah untuk dijadikan pembedaan perlakuan terhadap seseorang bukanlah faktor pembedaan – pembedaan identitas, melainkan faktor kualitas yang dimiliki seseorang.

Akan tetapi, kesetaraan yang dimaksudkan dalam Islam bukan dalam pengertian “kesamaan” (tamatsul), tetapi keadilan. Sebuah fakta kehidupan bukan berdiri diatas prinsip kesamaan, melainkan diatas prinsip pembedaan. Fakta seperti adanya besar dan kecil, kuat dan lemah, tinggi dan rendah, laki – laki dan perempuan, kekuatan dan kelembutan, dan lai sebagainya, adalah fakta kehidupan yang mustahil diseimbangkan melalui prinsip kesamaan. Hal itu dapat diseimbangkan jika melalui prinsip keadilan. Adil adalah sikap memperlakukan segala sesuatu secara proporsional, yang mana terbebas dari sikap diskriminatif.

Karena beberapa alasan itulah Islam tidak mengajarkan istilah kesetaraan sebagai asas kehidupan yang mutlak. Sebab, hal itu bertentangan dengan sistem penciptaan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Islam mengajarkan keadilan sebagai asas kehidupan. Jika keadilan menuntut adanya kesamaan, itu hanya berlaku saat realitas individu yang benar – benar sama secara persis dalam segala sifat – sifatnya. Apabila dalam realitas terjadi perbedaan, maka keadilan menuntut pernbedaan pula. Karena penyamaan dua hal yang berbeda adalah tindakan aniaya yang bertentangan dengan asas keadilan. []

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s